ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM PENCERNAAN


REVIEW ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN (GASTROINTESTINAL/DIGESTIVUS)

Sistem pencernaan adalah sistem yang mencakup saluran mulai dari masuknya makanan hingga makanan diekskresikan (dari mulut hingga anus). Panjang saluran pencernaan yaitu 9 meter (30 kaki) Saluran pencernaan dilapisi 4 lapisan dari dalam keluar yaitu mukosa, submukosa, otot, dan serosa. Saluran pencernaan dikendalikan oleh saraf simpatis yang bersifat menghambat (inhibisi) dan saraf parasimpatis yang bersifat merangsang (eksitasi). 

Contoh kerja saraf simpatis yaitu adanya nyeri menurunkan peristaltik usus karena melibatkan kerja saraf simpatis. Contoh kerja saraf parasimpatis yaitu adanya cemas meningkatkan peristaltik usus. Saluran pencernaan bagian esofagus sampai lambung diperdarahi oleh arteri splanica. Usus halus diperdarahi oleh arteri mesentrika superior. Usus besar diperdarahi oleh arteri mesentrika superior dan inferior. Hampir semua aliran balik sistem pencernaan bermuara di sistem vena porta

Secara umum, struktur sistem pencernaan dibagi menjadi 2 kategori:

1.  Organ utama (alimentari canal)

Terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus

2.  Organ asesoris

Organ di luar saluran cerna namun berperan pada sistem pencernaan yaitu hepar, pankreas, kandung empedu.

 

FUNGSI SISTEM PENCERNAAN

1.   Ingesti

Proses mengunyah dan menelan makanan, mulai dari makanan masuk mulut hingga ditelan melalui esofagus menuju ke lambung

2.   Digesti

Mengubah makanan dari ukuran besar hingga kecil dan halus, dari yang tidak dapat diserap menjadi dapat diserap. Terjadi di mulut dan lambung. Secara kimiawi proses ini dibantu enzim pencernaan

3.  Absorpsi

Penyerapan zat-zat gizi melalui vili-vili usus halus masuk ke dalam pembuluh darah dan ditraspor ke sel-sel tubuh

4.   Eliminasi

Pengeluaran sisa makanan yang tidak diserap, dibuang melalui anus (BAB)

 

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM PENCERNAAN

1. PENGKAJIAN

Tahap awal yang penting untuk menemukan masalah, merumuskan diagnosa, kemudian menentukan intervensi yang tepat pada pasien.

Pengkajian dlakukan dengan 4 metode:

1. Wawancara/anamneses, dilakukan untuk mengetahui keluhan pasien, riwayat penyakit saat ini,  riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga, latar demografi

a.  Riwayat penyakit saat ini

- Tanyakan keluhan utama pasien, biasanya keluhannya yaitu kurang nafsu makan (anoreksia), mual, muntah, kembung, diare, nyeri perut.

- Bila keluhan nyeri, kaji PQRST.

- P (provoking/paliatif): apa yang mencetus timbulnya nyeri, memperberat atau meringankan nyeri

- Q (Quality): bagaimana nyeri yang dirasakan? Apakah seperti diremas, ditusuk-tusuk, panas atau ditekan

- R (Region/radiasi): lokasi nyeri di mana dan apakah menyebar? Bila menyebar ke area mana?

- S (Severity/Scale): Tingkat keparahan nyeri dengan skala nyeri

- T (Time): Kapan pertama kali timbul nyeri, berapa lama nyeri dirasakan, frekuensi, durasi

b. Riwayat kesehatan dahulu

- Tanyakan apakah pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya

- Apakah sampai dirawat di RS dengan status sembuh, ulang paksa atau rujuk  

c. Riwayat Kesehatan Keluarga

- Tanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit yang sama, karena sebagian penyakit pencernaan bersifat menular.

- Pengkajian keluarga terkait kebiasaan keluarga menyiapkan dan mengolah serta menyimpan makanan, kebiasaan cuci tangan, tempat BAB

d. Latar demografi

Usia pasien dewasa atau anak pada penyakit diare misalnya disebabkan oleh penyebab yang berbeda antara anak dan dewasa. Domisili pasien misal di Padang memiliki budaya atau kebiasaan makan makanan pedas sehingga dapat menyebabkan terjadinya gastritis. Pekerjaan terkait strees kerja dan pola makan yang tidak teratur karena pekerjaan dapat menyebabkan penyakit pencernaan misalnya gastritis. Tingkat ekonomi rendah berhubungan dengan terjadinya malnutrisi dan infeksi saluran cerna. Tingkat ekonomi tinggi berhubungan dengan terjadinya obesitas, hiperkolesterol, dsb  

2. Observasi

Amati kondisi umum pasien, perilaku, pasien. Contoh pada pasien yang mengeluh nyeri, maka yang dapat diobservasi yaitu ekspresi wajahnya meringis menahan nyeri, memegang area yang nyeri, membatasi gerakan. Dapat juga dilakukan observasi suhu dengan termometer, namun hal ini dapat dikategorikan pada pemeriksaan fisik

3. Pemeriksaan Fisik

Dapat dilakukan dengan menggunakan alat atau tanpa alat, Pemeriksaan dilakukan terfokus pada sistem pencernaan.

Pemeriksaan meliputi:

a. Keadaan Umum

Meliputi: posisi tubuh, aktivitas motorik, kesadaran, antopometri (BB, TB, IMT)

b. Kulit

Meliputi: warna kulit (pucat/sianosis/ikterus), turgor kulit, tekstur

c. Kepala

Kaji warna konjungtiva/sklera, apakah mata cekung, bau nafas, keadaan gigi, mulut dan mukosa

d. Abdomen

Kaji ukuran, bentuk, perubahan warna kulit, adakah jaringan parut, tonjolan, pengembangan pada pernafasan terbatas, lipatan kulit

e. Faktor Psikologis

Depresi, gelisah, atau kecemasan (ansietas) dapat berpengaruh pada penyakit pencernaan

Pemeriksaan Abdomen

1. Inspeksi, apakah abdomen simetris, adakah massa terlihat, adakah denyutan (normalnya terlihat di area epigastrium). Perhatikan warna kulit abdomen, apakah ada striae (garis-garis ungu biasanya pada pasien dengan Cushing Syndrome), adakah vena yang melebar (Spiden naivi biasanya pada pasien dengan sirosis hepatis atau bendungan vena cava), adakah ikterik atau kelainan kulit lainnya. Perhatikan umbilikus, bagaimana warna, bentuk dan lokasi, apakah ada tanda hernia dan inflamasi. Warna kebiruan (Cullen) dapat menandakan adanya perdarahan intraabdomen. Perhatikan adakah penonjolan, bentuk dan bedakan adanya distensi dengan kehamilan atau retensi urin, adakah pembengkakan di hepar atau area pankreas

2. Auskultasi, Setelah diinspeksi selanjutnya lakukan auskultasi dengan menggunakan stetoskop bagian diafragma stetoskop. Kaji gerakan/peristaltik usus atau kemungkinan gangguan vaskuler. Kaji  karakteristik dan frekuensi bising usus, normalnya terdengar cliks dan gurgles, frekuensi normal antara 5-35x/menit

3. Palpasi, Palpasi abdomen terbagi 3 yaitu

palpasi ringan (superfisial), Palpasi ringan (superfisial) dilakukan untuk mengetahui ketegangan abdomen atau nyeri abdomen. Dilakukan menggunakan telapak ujung jari-jari tangan secara bersama-sama menekan area abdomen secara lembut di semua kuadran secara sistematis. Validasi respon pasien kemudian lakukan lagi palpasi agak kuat dengan klien rileks atau saat ekspirasi.

Palpasi dalam, Dilakukan untuk mengetahui massa dalam abdomen. Gunakan pallar ujung jari, raba massa dan tentukan lokasi, ukuran, mobilisasi, konsistensi massa, nyeri tekan. Dan palpasi khusus.

4. Perkusi , Untuk mengetahui ukuran hepar, lien, adanya asites atau massa padat atau kistik. Caranya letakkan minimal 3 jari pada dinding abdomen, kemudian gunakan satu jari tangan lain untuk mengetuk jari di atas abdomen. Normal bunyi abdomen yaitu timpani. Bila terdapat cairan atau asites maka terdengar pekak atau redup beralih (shifting dullness), sedangkan pada pasien kembung akan terdengar hipertimpani.

4. Pemeriksaan penunjang  (Diagnostik)

Pemeriksaan diagnostik yang biasanya dilakukan pada pasien dengan gangguan sistem pencernaan yaitu:

a.  Pemeriksaan hematologi 

b. Pemeriksaan darah rutin seperti leukosit, Hb, trombosit, hematokrit, darah lengkap, jenis leukosit, kimia darah, seroimmunologi, dsb

c.  Pemeriksaan radiologi

d. Barium meal (gambar kontras pada gaster dan usus halus), Barium enema (gambar kontras pada kolon), Barium swallow (gambar kontras pada esofagus), Cholecystografi (gambar x-ray pada kandung empedu), USG

e.  Pemeriksaan Endoskopi (visualisasi organ-organ dalam)

 

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

- Sebelum menentukan diagnosa, lakukan analisa data dengan tabel: Data Menyimpang (DS dan DO), Etiologi, Masalah Keperawatan

- Diagnosa terdiri dari diagnosa aktual dan diagnosa risiko

- Diagnosa aktual, ditulis: Masalah keperawatan berhubungan dengan Etiologi, ditanai dengan DS dan DO

Contoh: Nyeri akut berhubungan dengan adanya agen pencedera fisiologis, ditandai dengan: ….. (DS dan DO)

-  Diagnosa risiko, ditulis: Masalah keperawatan dibuktikan dengan Faktor risiko

Contoh: Risiko infeksi dibuktikan dengan malnutrisi

-  Urutkan diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas mulai dari yang paling mengancam

CONTOH DIAGNOSA KEPERAWATAN (SDKI)

Diagnosa keperawatan yang biasanya muncul pada gangguan sistem pencernaan yaitu:

  1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: inflamasi, agen pencedera fisik:prosedur operasi (D.0077)
  2. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan, ketidakmampuan mencerna makanan, ketidakmampuan mengabsorpsi nutrien, fator ekonomi, faktor psikologis, peningkatan kebutuhan metabolisme (D.0019)
  3. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, kekurangan intake cairan (D.0023)
  4. Risiko infeksi dibuktikan dengan penyakit kronis, malnutrisi, efek prosedur invasif (D.0142)

Tujuan atau Luaran Asuhan Keperawatan (SLKI)

      Penentuan tujuan dengan metode SMART: Spesific (tujuan jelas dan spesifik), Measurable (dapat diukur), Achieveable (dapat dicapai), Rasional (masuk akal), Time (ada target waktu untuk mencapai tujuan)

      Luaran menggunakan 3 kata kunci: Menurun, Meningkat, atau Membaik

      Menurun, bila data yang didapat di atas status atau kadar normal. Misal: Tingkat nyeri menurun (L.08066), Tingkat infeksi menurun (L.14137)

      Meningkat, bila data yang didapat di bawah kadar normal. Misal: Bersihan jalan nafas meningkat (L.01001)

      Membaik, bila data tidak dapat diukur dengan naik atau turun. Misal: Status nutrisi membaik (L.03030), Status cairan membaik (L.03028)

 

3. INTERVENSI KEPERAWATAN

Intervensi harus mencakup 4 poin:

  1. Observasi, Contoh: Manajemen hipovolemia (I.03116), Periksa tanda dan gejala hipovolemia , Monitor intake dan output cairan
  1. Terapeutik, Contoh: Berikan asupan cairan oral, Berikan kompres hangat di atas perut
  1. Edukasi, Contoh:  Anjurkan memperbanyak cairan oral, Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
  1. Kolaboratif, Contoh: Kolaborasi pemberian cairan infus IVFD, kolaborasi pemberian injeksi analgetik

 

REFERENSI

Diyono & Mulyanti, S. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan Dilengkapi Contoh Studi Kasus dengan Aplikasi NNN (Nanda Noc Nic). Jakarta: Kencana.

Tim Pokja PPNI. (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta

Tim Pokja PPNI. (2016). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta

Tim Pokja PPNI. (2016). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta

 

 

Komentar

Postingan Populer