EFEK SAMPING OBAT
Defenisi
Obat
Obat merupakan zat kimia yang dapat mempengaruhi jaringan biologis.
Menurut WHO (World Health Organitation), obat adalah suatu komponen zat yang dapat mempengaruhi
aktivitas fisik maupun psikis.
Kebijakan Obat Nasional (KONAS) obat adalah bahan atau sediaan yang
digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem
fisiologi atau kondisi patologi dalam rangka penetapan diagnosis,
pencegahan, penyembuhan, pemulihan dari
rasa sakit, gejala sakit, dan/atau penyakit, untuk meningkatkan kesehatan dan
kontrasepsi.
Efek
samping obat yang harus kita ketahui
Efek samping merupakan semua efek yang tidak dikehendaki
yang membahayakan atau merugikan pasien (adverse reactions) akibat penggunaan
obat. Efek samping dapat bervariasi dari masalah kecil seperti pilek hingga
peristiwa yang mengancam jiwa, seperti peningkatan risiko serangan jantung.
Walaupun tidak semua obat memiliki efek samping obat yang merugikan, akan
tetapi perlu upaya untuk mencegah terjadinya hal-hal berbahaya akibat
penggunaan obat.
Efek samping obat yang paling umum adalah yang
berkaitan dengan sistem pencernaan, terutama rasa mual dan perut tidak nyaman.
Untuk obat yang dipakai di luar, efek samping yang lazim adalah iritasi kulit.
Efek
Samping Dari Beberapa Obat
1. Obat kolesterol memicu nyeri otot
Beberapa orang yang memang menderita nyeri otot kronis, efek samping
semacam ini mungkin tidak terlalu menjadi masalah karena sudah terbiasa. Namun
bagi sebagian orang akan sangat mempengaruhi kualitas hidup dan mengurangi
produktivitas saat bekerja. Sekitar 1 dari 20 pemakai obat kolesterol paling populer yakni statin
mengalami efek samping berupa nyeri otot. Jika kondisi ini mengganggu
aktivitas, konsultasikan dengan dokter untuk menurunkan dosisnya atau
menggantinya dengan obat lain
2. Antiradang memicu perdarahan lambung
Meski bisa diperoleh dengan mudah tanpa harus menggunakan resep dokter,
obat-obat antiradang seperti ibuprofen dan diklofenak tidak selalu aman bagi
semua orang. Jika punya masalah dengan pencernaan sebaiknya berkonsultasi dulu
dengan dokter, sebab obat-obat ini bisa memicu luka dan perdarahan di lambung
3. Obat asma memicu sariawan
Steroid untuk asma yang diberikan dalam bentuk spray (semprotan) bisa
memicu sariawan di mulut jika obat ini tidak semuanya masuk ke paru-paru, namun
berbalik ketika baru mencapai tenggorokan. Risiko ini bisa diatasi dengan
berkumur setelah penyemprotan, atau menggunakan alat khusus untuk memastikan
arah semprotan sudah tepat menuju ke tenggorokan.
4. Obat hipertensi memicu disfungsi ereksi
Obat-obat penurun tekanan darah diberikan untuk mencegah serangan jantung
sehingga penderita hipertensi bisa hidup lebih lama. Namun beragam efek samping
mulai dari pembengkakan sendi hingga tidak bisa ereksi kadang membuat si
penderita merasa frustrasi dan lebih memilih mati muda.
Efek samping obat hipertensi memang
sangat beragam, beberapa di antaranya juga memicu pusing dan batuk-batuk.
Mintalah dokter untuk menyesuaikan dosis dan kombinasi obat agar efek samping
yang muncul bisa diminimalkan.
5. Obat jantung memicu sakit kepala
Obat-obat anti angina bekerja dengan cara melebarkan pembuluh darah. Mekanisme ini ampuh untuk mencegah serangan jantung, namun efek sampingnya bisa menyebabkan nyeri hebat di kepala. Kenyataanya penderita gangguan jantung tetap setia memakai obat-obat tersebut. Sebab jika dibandingkan dengan risiko kematian yang begitu tinggi pada serangan jantung, sedikit nyeri di kepala rasanya tidak terlalu mahal untuk menghargai hidup.
Berikut
adalah beberapa jenis efek samping obat
1. Makan saat tidur
Beberapa jenis obat insomnia memang bisa membantu datangnya kantuk.
Tetapi, tak sedikit pengguna obat ini yang mengeluhkan kebiasaan aneh, seperti
berjalan saat makan atau pun minum.
2. Sulit tidur
Obat penurun kolesterol golongan statin pada beberapa orang bisa
menyebabkan efek samping kesulitan tidur.
3. Sering buang gas
Ada obat penurun berat badan yang memiliki efek samping tidak nyaman,
yakni menyebabkan sering buang gas, tinja berlendir, hingga diare. Obat
tersebut memang cukup efektif mencegah penyerapan lemak di usus, tetapi jika
kita banyak mengkonsumsi makanan berlemak maka efeknya adalah diare dan tinja
bercampur lemak.
4. Sidik jari hilang
Seorang pasien kanker yang mengonsumsi obat jenis capecitabine dilaporkan
mengalami efek samping langka berupa hilangnya sidik jarinya. Hal itu diketahui
ketika ia sedang diperiksa bagian imigrasi di bandara. Efek samping aneh
lainnya yang mungkin timbul dari obat tersebut adalah kulit menjadi sangat
halus, perdarahan, serta borok di kulit. Menurut dokter, begitu obat tersebut
dihentikan, biasanya sidik jari akan kembali lagi.
5. Indera penciuman terganggu
Obat resep Vasotec yang biasa dipakai untuk mengontrol tekanan darah dan
gagal jantung diketahui menyebabkan efek samping berupa hilangnya kemampuan
indera penciuman.
6. Mimpi buruk
Merokok merupakan faktor risiko penyakit kronik yang bisa dihindari.
Salah satu obat untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini, yakni Chantix,
terbukti cukup efektif tetapi menyebabkan beberapa efek samping. Pengguna obat
ini mengeluhkan gangguan insomnia serta jika mereka tertidur, mereka akan
mengalami mimpi buruk.
7. Penglihatan menjadi biru
Seorang pria di Inggris yang kerap menggunakan obat anti-impotensi Viagra
mengaku pandangannya menjadi biru setelah mengkonsumsi obat ini.
8. Tinja hitam
Beberapa jenis obat, terutama untuk mengatasi rasa panas di dada dan
diare, ternyata memiliki efek samping yang aneh tetapi tidak berbahaya.
Mengalami lidah terasa tebal dan menghitam serta tinjanya berwarna kehitaman.
Faktor
Pemicu Efek Samping Obat
1. Faktor pasien.
Yaitu faktor intrinsik yang berasal dari pasien, seperti umur, faktor
genetik, dan penyakit yang diderita
a. Umur
Pada pasien anak-anak (khususnya bayi) sistem metabolismenya belum
sempurna sehingga kemungkinan terjadinya efek samping dapat lebih besar, begitu
juga pada pasien geriatrik (lansia) yang kondisi tubuhnya sudah menurun.
b. Genetik dan kecenderungan untuk alergi
Pada orang-orang tertentu dengan variasi atau kelainan genetik, suatu
obat mungkin dapat memberikan efek farmakologi yang berlebihan sehingga dapat
menyebabkan timbulnya efek samping. Genetik ini juga berhubungan dengan
kecenderungan terjadinya alergi.
Contohnya pada penisilin, sekitar 1-5% orang yang mengonsumsi penisilin
mungkin mengalami reaksi alergi.
c. Penyakit yang diderita
Untuk pasien yang mengidap suatu penyakit tertentu, hal ini memerlukan
perhatian khusus. Misalnya untuk pasien yang memiliki gangguan hati atau
ginjal, beberapa obat dapat menyebabkan efek samping serius, maka harus
dikonsultasikan pada dokter mengenai penggunaan obatnya.
2. Faktor intrinsik dari obat.
Yaitu sifat dan potensi obat untuk menimbulkan efek samping, seperti
pemilihan obat, jangka waktu penggunaan obat, dan adanya interaksi antar obat.
a. Pemilihan obat
Setiap obat tentu memiliki mekanisme kerja yang berbeda-beda, tempat
kerja yang berbeda, dan tentunya efek yang berbeda pula. Harus diwaspadai juga
efek samping yang mungkin terjadi dari obat yang dikonsumsi
b. Jangka waktu penggunaan obat
Efek
samping beberapa obat dapat timbul jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang
lama.
Contohnya penggunaan parasetamol dosis tinggi pada waktu lama akan
menyebabkan hepatotoksik atau penggunaan kortikosteroid oral pada jangka waktu
lama juga dapat menimbulkan efek samping yang cukup serius seperti moonface,
hiperglikemia, hipertensi, dan lain-lain. Lain lagi dengan penggunaan AINS
(anti inflamasi non steroid) berkepanjangan, dapat muncul efek samping berupa
iritasi dan nyeri lambung.
c. Interaksi obat
Interaksi obat juga merupakan salah satu penyebab efek samping. Ada
beberapa obat ketika dikonsumsi secara bersamaan, akan muncul efek yang tidak
diinginkan. Contohnya kombinasi antara obat hipertensi inhibitor ACE dengan
diuretik potasium-sparing (spironolakton) dapat menyebabkan hiperkalemia.
Gejala
Yang Ditimbulkan Oleh Efek Samping Obat
1. Efek samping umum:
- Pusing
- Mual
- Sembelit
- Diare
- Drowiness
- Nyeri dan
- Reaksi kulit
2. Efek samping serius:
- Kematian
- Kelemahan fisik
- Kondisi jantung
- Stroke
- Kanker
Mencegah
Munculnya Efek Samping Obat
1.Baca dosis dan aturan pakai penggunaan obat sesuai dengan yang tertera
di leafleat atau yang diresepkan oleh dokter.
2. Pergunakan obat sesuai dengan indikasi yang jelas dan tepat sesuai
yang tertera di leafleat atau yang diresepkan oleh dokter.
3. Berikan perhatian khusus terhadap penggunaan dan dosis obat pada bayi,
pasien usia lanjut dan pasien dengan penyakit ginjal atau hati.
4. Perhatikan dan catat riwayat alergi akibat
penggunaan obat
5. Beritahukan kepada dokter apabila memiliki
kondisi khusus seperti ibu hamil, ibu menyusui, alergi terhadap obat tertentu,
memiliki riwayat diabetes, penyakit ginjal atau liver, sedang meminum obat lain
atau suplemen herbal.
6. Hindari penggunaan berbagai jenis obat dan
kombinasi sekaligus.
7. Mintalah dokter mengevaluasi penggunaan
obat dalam jangka panjang.
Penanganan
Efek Samping Obat
1. Segera hentikan semua obat bila diketahui atau dicurigai terjadi efek
samping.Bukanlah tindakan yang tepat bila mengatasi efek samping dengan
menambah konsumsi obat untuk mengobati efek yang timbul tanpa disertai dengan
penghentian obat yang dicurigai berefek samping. Hal ini justru akan bernilai
tidak efektif , dan efek samping tetap terus terjadi.
2. Telaah bentuk dan kemungkinan mekanismenya.
Bila efek samping dicurigai sebagai akibat efek farmakologi yang terlalu besar,
maka setelah gejala menghilang dan kondisi pasien pulih pengobatan dapat
dimulai lagi secara hati-hati, dimulai dengan dosis kecil.
3. Bila efek samping dicurigai sebagai reaksi
alergi atau idiosinkratik, obat harus diganti dan obat semula sama sekali tidak
boleh dipakai lagi. Biasanya reaksi alergi/idiosinkratik akan lebih berat dan
fatal pada kontak berikutnya terhadap obat penyebab. Bila sebelumnya digunakan
berbagai jenis obat, dan belum pasti obat yang mana penyebabnya, maka
pengobatan dimulai lagi secara satu-persatu.
4. Upaya penanganan klinik tergantung bentuk
efek samping dan kondisi penderita.
5. Pada bentuk-bentuk efek samping tertentu
diperlukan penanganan dan pengobatan yang spesifik.
6. Misalnya untuk syok anafilaksi (suatu
reaksi alergi) diperlukan pemberian adrenalin dan obat serta tindakan lain
untuk mengatasi syok.
7. Contoh lain: pada keadaan alergi,
diperlukan penghentian obat yang dicurigai, pemberian antihistamin atau
kortikosteroid (bila diperlukan)
Komentar
Posting Komentar
Semoga bermanfaat 🙏